Kepedulian Terhadap Lingkungan Harus Setimpal

Senin, 15 September 2008 | 21:40 WIB

BANDUNG, SENIN - Kepedulian yang besar pada lingkungan diyakini mampu memberikan keuntungan pada perusahaan. Alasannya, bukan sekedar turut melestarikan alam tapi mampu membangun citra positif di masyarakat. Demikian dikatakan Pelaksana Tugas Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat, Setiawan Wangsatmadja, di sela-sela Pameran Bandung Kotaku Hijau di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Senin (15/9).

Setiawan mengharapkan perusahaan penghasil limbah bisa memberikan perhatian yang besar pada lingkungan. Semakin besar limbah yang dihasilkan maka upaya pemulihan lingkungannya juga harus setimpal.

Namun, ia mengakui tidak banyak perusahaan yang mau peduli dalam pemulihan lingkungan. Masih ada perusahaan yang cenderung memperhitungkan untung rugi kala memberikan perhatian pada lingkungan. Perhatian lingkungan dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi.

“Kepedulian terhadap lingkungan dianggap menghabiskan anggaran perusahaan. Hasil akhir yang dihasilkan dikatakan tidak berhubungan dengan produk yang dihasilkan,” katanya.

Kekhawatiran itu dikatakan tidak beralasan. Belajar dari beberapa perusahaan besar di luar negeri atau dalam negeri, kepedulian lingkungan justru menguntungkan. Perusahaan bisa memperbaiki bahkan meningkatkan nama baik dan kualitas di mata masyarakat.

“Bila nama baik terangkat, maka minat masyaralat mengkonsumsi barang hasil perusahaan pasti meningkat. Bila itu terjadi, maka keuntungan yang dihasilkan tentu sangat besar,” ujar Setiawan.

Menurut pengaggas acara Bandung Kotaku Hijau, Wawan Juanda, peran perusahaan dalam acara bertema lingkungan bukan sesuatu yang buruk. Terlepas dari maksud lain, program kepedulian beberapa perusahaan terhadap lingkungan sangat membantu pemulihan alam yang semakin rusak, khususnya di Bandung.

Ia mencontohkan acara Bandung Kotaku Hijau yang bekerjasama dengan produsen rokok nasional. Dengan salah satu program Satu SMS bernilai satu pohon , saat ini telah terkumpul 10.000 pohon. Nantinya, bekerja sama dengan 108 perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi di Bandung, akan dilakukan penanaman semua pohon yang terkumpul. Hingga satu bulan program berjalan sudah ditanam sekitar 5.000 pohon di berbagai macam tempat. Penanam dan perawatnya adalah masyarakat yang berada di sekitarnya.

Setidaknya perusahaan itu mau berbuat sesuatu. Hal jauh lebih baik dibandingkan hanya sekedar berbicara tanpa tindakan, katanya.

Akan tetapi, Wawan mengharapkan agar hal ini tidak berhenti sekedar seremonial. Selain bisa menjadi semangat bagi perusahaan lain berbuat hal yang sama, ia berharap program ini bisa berjalan dengan tanggungjawab berbagai pihak.

“Tidak hanya memberikan pohon dan menanam tapi juga turut memeliharanya. Program ini harus terus berjalan berkesinambungan,” katanya.(A029)

Cornelius Helmy Herlambang

Sumber Referensi :
Kompas.com

Pelajar dan Mahasiswa Bandung Kampanye ‘Plastik Phobia’

Sabtu, 9 Februari 2008 | 20:01 WIB

BANDUNG, SABTU - Sekitar seribu pelajar dan mahasiswa Kota Bandung, Sabtu (9/2), tumpah ruah di Jalan Ganeca depan Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar aksi “Plastic Phobia”. Peserta aksi penyelamatan lingkungan yang dimotori oleh Mahasiswa TekniK Lingkungan ITB itu terdiri dari siswa - siswi beberapa SD, SMP dan SMA di Kota Bandung.

Acara “Plastic Phobia” yang merupakan rangkaian akhir dari “Anti Plastic Campaign Bag” atau Kampanye Anti Kantong Plastik itu diwarnai oleh “hapening art” dan aksi seni instalasi dari mahasiswa Design Grafis ITB.

“Semangat merubah budaya penggunaan kantong plastik perlu dilakukan dari diri individu masing-masing. Upaya ini sangat positif untuk menghentikan bencana lingkungan akibat kantong plastik di masa depan,” kata Rektor ITB Prof Dr Joko Santoso di sela-sela acara kampanye itu. Menurut Joko, sudah selayaknya kawula muda lebih peduli dan ramah kepada lingkungan, karena generasi muda akan menentukan penyelamatan lingkungan di masa mendatang.

Rektor berharap, kampanye anti kantong plastik itu tidak berhenti di satu tahapan, namun harus dilakukan secara kontinyu kepada masyarakat. Kesadaran untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sangat positif, terutama kepada mereka yang punya aktivitas langsung dengan penggunaan kantong plastik itu.

“Adalah sebuah tantangan bagi kalangan kampus dan generasi muda untuk mencari solusi pengganti kantong plastik,” katanya. Sementara itu, para pelajar dan mahasiswa melakukan pawai anti kantong plastik mengitari beberapa jalan protokol di sekitar Kampus ITB sambil mengusung poster anti kantong plastik.

Selain itu, beberapa karya instalasi tentang lingkungan juga menyita perhatian pengunjung dan peserta kampanye anti kantong plastik itu. Beberapa pesannya antara lain “Kantong Kresek Sudah Mencuri Sisi Bumi Kita Sampai ke Dunia Orang Mati Sekalipun”, “Berjuta-juta Pohon Ditebang untuk Menjadi Korban untuk Menjamin Keberadaan Sebuah Kantong Kresek” Poster lain bertuliskan “Keberadaan Kantong Kresek Semakin Menyelimuti Bumi Kita Tercinta”.

“Kampanye Anti Kantong Plastik ini difokuskan kepada generasi muda 16-26 tahun. Kami berharap anti kantong plastik menjadi ’trend’ kalangan anak muda sehingga mereka sadar akan bahaya sampah plastik yang baru terurai setelah ratusan tahun,” kata Ketua Panitia “Anti Plastic Campaign Bag”, Cinta Azwindatari. Kampanye anti kantong plastik itu juga mendapat dukungan dari sejumlah artis dan aktivis lingkungan dari Walhi, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda.(ANT/WAH)(A029)

Sumber Referensi :
Kompas

Macan Tutul (Panthera pardus)

Deskripsi

Macan tutul memiliki variasi pada morfologinya. Pada umumnya, warna mantel bervariasi, mulai dari kuning pucat hingga warna emas gelap dengan pola bintik-bintik hitam. Kepala, kaki bagian bawah dan bagian perut berbintik hitam pekat. Warna mantel dan polanya berasosiasi dengan tipe habitat mereka

Reproduksi
Jantan akan mengikuti betina. Jantan akan berkelahi agar dapat bereproduksi dengan betina (Nowak, 1997). Bergantung pada daerah diman macan tutul itu berada, Macan tutul dapat berpasangan dengan betina sepanjang tahun (India dan Afrika), atau pada musim tertentu selama januari sampai februari (Manchuria dan Siberia). Siklus estrus berlangsung selama 46 hari dan betina akan merasa ingin kawin selama 6-7 hari.

Anak macan lahir dengan jumlah 2-3 ekor, namun tingkat kematian bayi macan juga tinggi dan induk betina jarang terlihat bersama dengan lebih dari 1-2 anak macan. Betina yang sedang hamil akan menemukan gua, celah diantara batu besar, rongga pohon, atau diantara semak belukar, sebagai tempat untuk melahirkan dan untuk membuat sarang. Anak macan akan membuka matanya dalam waktu 10 hari setelah dilahirkan.

Bulu dari anak Macan Tutul cenderung lebih panjang dan lebih tebal dari pada bulu Macan Tutul dewasa. Warna bulunya abu-abu dan mempunyai pola bintik-bintik di bulunya yang sedikit. Selama 3 bulan, anak Macan Tutul akan mengikuti induknya untuk berburu. Setelah Macan Tutul yang berumur 1 tahun, maka dia telah dapat berburu untuk dirinya sendiri, tetapi induknya akan melindunginya selama 18-24 bulan (Nowak, 1997, Guggisberg, 1975).

Macan Tutul betina cenderung untuk memelihara anak macan, tetapi berdasarkan laporan terbaru diketahui bahwa macan tutul jantan juga ikut membantu mengasuh induk betina (pasangannya) dan anak macan, contohnya dengan membawakan hasil buruan sebagai makanan untuk mereka (Guggisberg, 1975).
Perilaku
Perilaku macan tutul terkenal dengan kemampuannya untuk tidak terdeteksi. Mereka dapat hidup diantara manusia. Mereka ahli dalam memanjat, berenang tetapi tidak seperti harimau, macan tidak akan berbaring di air. Mereka merupakan hewan nokturnal tetapi dapat dilihat pada siang hari. Macan ini hidup soliter, saling menghindar satu sama lain.

Tetapi mereka kadang terlhat bersama sebanyak 3 sampai 4 ekor. Mereka memiliki pendengaran dan penglihatan yang kuat. Ketika melakukan ancaman, macan memanjangkan badannya dan menundukan kepalanya (sama seperti pada kucing domestik). Pada siang hari mereka biasanya berbaring di atas batu, atau di atas pohon.
Macan tutul dapat dilihat kapan saja di siang hari. Mereka sebenarnya merupakan hewan nokturnal, tetapi macan tutul yang hidup di daerah konservasi mereka lebih diurnal, walaupun sering terlihat berburu di siang hari. Macan tutul baik dalam memanjat, menurunkan kepalanya terlebih dahulu.

Macan tutul lebih banyak berburu di atas tanah, dan merupakan pemburu yang handal dengan rata-rata daerah perburuan seluas 275 m. mereka menerkam mangsanya terlebih dahulu sebelum memakannya. Leopard akan menyeret mangsanya, dan mengangkatnya ke atas dahan meskipun seringkali mangsanya berukuran lebih besar daripada tubuhnya contohnya antelope.

Dua pertiga waktunya dihabiskan untuk beristirahat, sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon, di atas batu besar atau di dalam sarang burung pemakan bangkai. Macan tutul hidup soliter, persebarannya bergantung pada ketersediaan sumber makanan. Mereka melakukan penandaan teritori dengan mengeluarkan urine dan membuat cakaran pada pohon. Mereka lebih dapat beradaptasi daripada singa dan harimau dan dapat tinggal dalam daerah yang padat.
Macan tutul hidup di hutan-hutan yang masih alami dan padang rumput. Keberadaan macan tutul sangat dipengaruhi jumlah makanan dan kondisi alam untuk kamuflase dalam berburu atau melindungi diri.

Secara global, macan tutul tersebar di banyak daerah yang meliputi wilayah Asia dan Afrika. Besarnya sebaran macan tutul ini menimbulkan variasi genetis dan morfologis pada tiap subspesiesnya.

Di Indonesia, macan tutul hanya terdapat di pulau Jawa. Saat ini di Jawa Barat, macan tutul masih dapat dijumpai di kawasan:
1. Gunung Salak
2. Taman Nasional Gunung Halimun
3. Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo
4. Hutan Sancang
5. Gunung Patuha Ciwidey
6. Cagar Alam Gunung Simpang Cianjur
7. Cagar Alam Gunung Tilu Cianjur

Habitat dan Persebaran
Diantara anggota famili felidae yang lain, leopard merupakan spesies yang paling mudah beradaptasi dan hampir dapat ditemukan pada seluruh habitat. Asia merupakan wilayah dengan spektrum lingkungan yang luas, dan leopard berada hampir berada di setiap tempat.

Di Indonesia, leopard hanya ditemukan di daerah jawa. Leopard tidak ditemukan di Sumatera karena adanya kehadiran harimau dan keenam spesiae lain dari famili felidae. Leopard juga tidak ditemukan di pulau Kalimantan karena ketidaktersediaan mangsa utama mereka.

Upaya konservasi
Ancaman terhadap keberlangsungan hidup macan tutul: Walaupun macan tutul toleran terhadap perubahan habitat, namun tetap saja jumlahnya berkurang bila dibandingkan habitat aslinya.
Di Asia macan tutul terancam di banyak area dengan berkurangnya mangsa utama. Perburuan liar banyak terjadi di Asia terutama untuk mendapatkan mantel kulit dan tulang untuk obat tradisional. Meskipun kerusakan habitat menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan hidupnya tetapi pertumbuhan sekunder macan tutul dapat berlangsung dengan baik.(A029)

Sumber Referensi :
http://www.bplhdjabar.go.id